Jumat, 20 November 2009

4 Brotherhood















Engkau berdua jauh berpindah tempat tanpa diperhatikan orang
Terbesit berita sosok engkau tidak akan mempunyai masa depan
Bagi saya engkau berdua adalah sepasang mutiara terpendam
Lama mencari, engkau di bawa pulang , memang sudah jodoh kata orang





Engkau berdua terpajang kaku, bagai intan di lumpur tanpa diketahui orang
Menurut orang engkau hanyalah sebuah kayu berbadan besar
Bagi saya, engkau berdua adalah harta dan anugerah besar
Sejuta jalan mendapatkan engkau, semua berakhir dengan sindiran orang


Keyakinan telah memberikan keberanian mengambil dan membesarkan kamu,
Engkau dibesarkan dengan penuh kasih sayang, terimalah itu sebagai berkah
Kini engkau bersaudara telah menjadi berita, tertulis sudah sebuah sejarah
Kenanglah selalu setiap jengkal jerih payah pengorbanan orang tua demi kamu,


Wahai anak ku empat bersaudara, tidak tahu apa yang akan terjadi ke esokan harinya
Tidak jelas berapa lama lagi engkau bisa dipertahankan, waktuku sudah semakin singkat
Betapapun susah terbelit masalah engkau bersaudara adalah penghibur dan pelipur lara
Karena engkau dulu harga diri kita terinjak, karena engkau kini martabat kita terangkat



Engkau bersaudara, membuat orang yang tidak melihat menjadi lihat
Engkau bersaudara, membuat orang yang tidak mendengar menjadi dengar
Berkat engkau bersaudara, orang yang mulutnya terbuka, tertutup tidak bersuara
Berkat engkau bersaudara, orangtua mu kini bisa berlapang dada dan bangga



Kapitan Andy, 18 Nopember 2009

Senin, 16 November 2009

Pulang dengan Kepala Tegak

Perhelatan akbar kontes bonsai di Malang usai sudah, bagaimana dengan kiprah Pendekar Cihideung kita ?. Seperti telah diceritakan sebelumnya, bahwa untuk ajang tempur sekali ini, pendekar menuju medan perang dengan membawa 10 pasukannya, berdasarkan absensi ternyata disaat-saat akhir muncul seorang pasukan relawan tambahan, Alhasil Pendekar menuju arena pertempuran dengan 11 pasukan.



Pasukan tiba di arena, pertama terlihat adalah barisan rapi pilar-pilar dan meja yang telah dipersiapkan panitia, terkesiap Pendekar Cihideung melihat jejeran Bonsai dengan penampilan yang mengagumkan tersusun rapi di meja dan diatas pilar, dari panitia kontes diketahui, jumlah pohon kontes berjumlah lebih dari 600 pohon, semua dengan satu tujuan, mengadu muka untuk mendapatkan predikat di berbagai kelas perlombaan.



Pendekar memberikan laporan, pohon peserta kontes sekali ini gajah-gajah semua Pak, ujarnya, suatu kiasan untuk mendramatisir pohon yang cantik atau berkwalitas sangat baik, sebagai salah satu bagian dari kontingen yang dibawa sang pendekar, kita tentu sangat memaklumi tekanan dan beban moril ini. Santai saja Pak Asep, bukankah kita sudah logowo sebelumnya, kalau tidak berhasil, kita coba lagi di kesempatan lain.



Dua hari penjurian berlangsung, walau dengan beban makin terasa, dari jarak pandang agak berjauhan karena lokasi kontes masih harus steril dari pengunjung, akhirnya muncul juga berita yang ditunggu, secara bergilir pendekar menelpon ke Bandung, Medan dan Lampung, beritanya tegas bahkan terkesan sangat singkat, duri merah, gulo merah…… dan seterusnya.



Tidak ada kata lain yang tepat selain salut dan selamat buat sang pendekar, sungguh fantastik dan fenomenal, dari 3 kelas yang di ikuti dalam kontes bonsai sekali ini, di kelas bergengsi yaitu Utama dan Bintang, meraih hasil sempurna 100%, dari 6 pohon di kelas Utama semua memperoleh Bendera Merah atau mendapatkan Predikat Baik Sekali, di kelas Bintang yang pada mulanya hanya uji coba dengan 1 pohon , juga meraih bendera merah, hasil kurang sempurna justru di kelas Madya, dari 4 pohon, hanya 2 meraih bendera merah dan 2 lagi hanya mendapat predikat baik atau bendera hijau.



Tuhan Maha Pengasih ujar Pak Asep, dari awal kita menargetkan 8 bendera merah, ternyata dapat 9, kita sedikit lebih beruntung dibandingkan yang lain, sambung Pak Asep, kurcaci –kurcaci kita akhirnya beri mujizat, hampir semua pohon kita dari tong sampah, alias murah meriah, ternyata hasilnya sungguh dahsyat luar biasa.



Betul kang Asep , masih ingatkah pesan moril singkat sebelum berangkat ke medan tempur, keyakinan dan keberanian Bapak kini telah menjadi berita, dan pasti akan dikenang orang sebagai suatu sejarah.


LANJUTKAN... ( kampanye ....nich ye............)





Atas 9 Bendera Merah yang engkau persembahkan untuk kita semua, wahai temanku Kang Asep, kita buat khusus 9 bait puisi suka duka anda, terimalah ini sebagai penghargaan dan ucapan terimakasih dari kita.



Sekian lamanya anda bagai tersangka bahkan terdakwa
Terbuang dari tempat dimana seharusnya anda berada
Sebagai Orang kecil memang sulit punya hak membela
Pengadilan alam telah membuka tabir menguak fakta
Dari tangan-tangan anda telah muncul beragam karya
Pantas bersyukur karena orang kini telah terbuka mata
Jangan dendam, berkat dihujat dahulu, anda kini mulia
Selayak dan sepantasnya sebutan Pendekar untuk anda
Kini saatnya untuk orang mengenal sosok Asep Suwarna



Sabtu, 07 November 2009

Pendekar dari Cihideung

Inilah kisah pendekar Cihideung dengan 10 kurcaci yang menjadi pasukannya, menuju medan tempur kang ?, Iya, sudah begitulah kerjaan saya selalu, jawab sang pendekar sambil tangannya terus menerus membersihkan pohon-pohon bonsai yang disusun berderet seperti barisan tentara.


Sang pendekar adalah Asep Suwarna, biasa disapa kang Asep, medan pertempuran di kamus nya adalah ajang kontes bonsai, sekali ini menurut pengakuannya diperlukan perhatian extra karena berlaga dia ajang akbar di Malang yang bertepatan dengan diselenggarakannya Mukernas (Musyawarah Kerja Nasional) PPBI.


Ini kan bukan pengalaman yang pertama, kenapa mesti dengan penanganan yang extra kang ?,


Ternyata bukan kontes ataupun kondisi pohon yang membuat pusing sang pendekar, sekali ini misi kita agak berbeda katanya, kita menuju medan tempur dengan membawa 3 bendera, apa itu kang ?, tiga bendera yang dimaksud rupanya mewakli kontestan dari 3 daerah berbeda, Bandung, Lampung dan Medan.


Tiga bendera itu kalau berada disuatu titik di Bandung tidak masalah, tapi secara geografis 2 kontestan lain lumayan jauh jaraknya, belum lagi kalau masing-masing kontesten mematok persyaratan tertentu seperti keamanan atau peluang bonsainya di kontes.


Kenapa mesti tertekan begitu kang, kalah menang itu sesuatu yang biasa, semua sudah tahu bahwa pasukan yang dibawa tempur adalah pendatang baru yang akan diuji menjadi calon artis. Kalau semua bisa legowo begitu alangkah bagus, tapi kita sering disalahkan pak, ujarnya sambil berkata lagi, yang nilai kan bukan kang Asep tapi orang lain, menurut pilihan Kang Asep ini yang terbaik, tapi kalau hasilnya diluar yang diharapkan mau bilang apa ya Pak, katanya bernada tanya. Tak perlu sungkan kang Asep, cukup katakan saja pada mereka : Kita Coba lagi di kesempatan lain.


Walau begitu, sang pendekar melontar target juga, dari 10 kurcaci ini, 3 di adu ke Kelas Madya dan 6 di Kelas Utama, dan 1 kalau dimungkin di Kelas Bintang, dari Kelas Madya diharap 2 bendera Merah, di Kelas Utama Insyaallah 6 Merah, kalau di Kelas Bintang pak Asep belum begitu ngerti, ini percobaan pertama katanya.


Target itu bukan tidak mungkin bisa dicapai, semangat dan pengalaman menangani bonsai-bonsai kontes selama ini setidak-tidaknya bisa membesarkan hati.

Bravo..Bravo.....Selamat Berjuang Pakcik Asep......

Dibawah ini adalah beberapa Kurcaci pasukan pilihan Pendekar Cihideung , untuk kontes di Malang tanggal 12 Nopember 2009.





Ulasan ini dibuat dengan persetujuan sang Pendekar, sedikit berat hati dan terbesit juga penolakan pada awalnya.

Jangan pak jangan, malu nanti, kalau sudah kontes baru di beritain kata Kang Asep.


Temanku Kang Asep, ini bukan falsafah dari negeri cina , ini datang dari hati kita,
Sesuatu yang belum tetapi diyakini terjadi, itu keberanian
Sesuatu yang sedang terjadi itu berita
Sesuatu yang sudah terjadi itu sejarah

Preview atau pra tayang ulasan ini, justru untuk membuktikan keberanian Kang Asep akan menjadi berita, dan ditulis kelak sebagai Sejarah. ( Kalau beruntung loh… kang !!!!)

Di kehidupan sehari-hari , yang sudah terjadi biasanya dipakai sebagai hikmah, tapi kalau ingin dihormati, semua yang terjadi mestilah dalam bentuk sejarah. Tidak semua sejarah identik kesuksesan, manusia masih jahat dan munafik, hanya yang baik-baik saja yang ditulis sebagai Sejarah.

Jumat, 06 November 2009

Seharusnya Tidak Bicara

Cina dan Jepang boleh saja disebut sebagai penemu atau negara kakek bonsai, tapi mungkin yang jarang diketahui dunia luar, Indonesia adalah negara paling inovatip dalam hal mengembangkan bonsai.

Pernah seorang teman bonsai dari Eropah datang kerumah, dengan wajah sedikit kaget bartanya, is this real bonsai tree ?, terkesiap dan terkejut mungkin yang bersangkutan melihat bonsai ukuran medium seperti pohon metal karena hampir sekujur cabang dan ranting total terbalut kawat.
Hampir malu kita, yang bersangkutan ternyata bukan kagum pada bonsai kita melainkan merasa sedih dan heran melihat bonsai tersebut dibentuk dengan cara demikian.



Jangan kaget Mister, sebenarnya itu sudah biasa disini, orang kita jarang-jarang mau menyerah kepada alam begitu saja, If you need a few year to make it, we only get it in few month, di Indonesia sudah biasa yang kanan bisa dibikin ke kiri , yang di kiri dibikin kanan, bahkan yang benarpun bisa dibikin salah atau disengajakan salah.

Di Luar negeri, bonsai konon katanya dibentuk dengan lebih manusiawi, Pembentukan bonsai ala barbar terkesan ganas dan instan seperti di Indonesia jarang dilakukan. Ini bisa benar, tapi bisa juga kerena cara-cara kita disini belum membudaya bagi mereka.

Kalau sudah begitu, apakah kesan bonsai Indonesia kurang dihormati atau tidak bisa bersaing dengan Luar negeri disebabkan cara pembentukannya yang kurang manusiawi ini, atau mungkin terhasut oleh kampanye anti keganasan oleh Green Peace atau mungkin sudah ada Lembaga Hak Azasi atau Perlindungan Tumbuhan.

Kita akan bertanya, bukankah kawat aluminium itu diciptakan untuk tujuan ini, apakah di luar negeri orang membentuk bonsai tidak dengan kawat tersebut tetapi diganti dengan tali plastik atau karet, penggunaan dan cara pengawatan itu justru kita peroleh atau dipelajari dari luar negeri juga, bukan hak paten orang Indonesia seperti batik atau tari pendet.



Bonsai itu sesuatu yang tumbuh terus, pengawatan demikian akan menghambat pertumbuhannya, gunakanlah seperlunya saja, itu pesan dari kenalan Eropah kami tersebut.

Benar Mister, masih ada misteri yang perlu juga diketahui dunia luar, tujuan pengawatan demikian memang mulanya karena ingin bonsai terbentuk dengan instan, bagi kita yang terbatas segala sesuatunya, waktu dan kesabaran adalah harga yang mahal untuk ditunggu dan diuji.


Bonsai di Indonesia bukan semata-mata seni yang dipertontonkan, sisi komersial dan ekonomis lah yang paling sering diharapkan.


Let me tell you the truth Mister, yang tadi you lihat memang bukan seharusnya dibentuk demikian, tapi demi kamufalse meng “gede”in cabangnya kita harus demikian, tidakkah anda lihat begitu cantik dan matangnya pohon tersebut sekarang, kalau diamati lebih seksama pohon itu masih setengah matang.



Jadi tak perlu heran kalau di bursa atau pameran disini anda akan menyaksikan bonsai-bonsai bak pohon metal dengan cabang atau ranting sebesar batang rokok tapi dibalut penuh dengan kawat sebesar cerutu.
Itu kiat bisnis Mister......

Oh ...... my God, I really really understand now Andy, thanks’s a lot for your time and hospitallity, Hope someday will meet you again, sambil pamit dan bersalaman akhirnya dia pulang , maka habislah cerita ini.